Sejarah PerkebunanTeh Malabar Pangalengan


Perkebunan Teh Malabar dibangun pada tahun 1890 di ketinggian 1550 m di atas permukaan laut. Lokasinya berada 45 km di selatan Bandung dengan hawa sedang 16 sampai 26 oC. Perkebunan ini diberkahi dengan pemandangan yang indah dari hamparan pegunungan yang diliputi oleh tanaman teh yang menghijau. Teh dari perkebunan ini sudah lama dikenal orang di dunia. Selain pabrik teh, wisatawan juga dapat menyaksikan peninggalan sejarah kebun Malabar berupa rumah dan makam pendiri kebun ini, K.A.R Boscha.
Apa yang bisa dilihat
Pemandangan alam yang diliputi hamparan kebun teh yang menghijau, sementara di sela-selanya para pemetik teh tengah bekerja dengan gembira
Wisma Malabar, didirikan pada tahun 1894 mulanya sebagai kantor dan kediaman KAR Boscha
Wisma Melati, didirikan pada tahun 1908, mulanya merupakan kediaman deputi manajer pertama Malabar, kini dikelola sebagai penginapan bagi wisatawan
Perumahan para pekerja perkebunan, dengan gaya khas arsitektur Sunda, pertama dibangun tahun 1890
Makam Boscha yang dinaungi oleh pepohonan di sebuah hutan kecil. Tempat ini dahulu merupakan tempat ia beristirahat setelah lelah menginspeksi kebun-kebun teh
Gunung Nini, walaupun hanya sebuah bukit, banyak dikunjungi para wisatawan untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan dari pegunungan yang melingkungi Malabar, Situ Cileunca, dan matahari terbit di antara Gunung Wayang dan Windu.
Pabrik Teh Tanara yang didirikan tahun 1905 dan kini dikenal sebagai Pabrik Teh Malabar terus memproduksi teh dataran tinggi yang berkualitas baik dan terkenal di dunia. Pabrik yang kini berdiri merupakan pengganti dari pabrik pertama yang hancur pada Perang Dunia II.
Kebun bibit pada awalnya di tahun 1896 ditanami bibit Teh Assam. Melalui budidaya, bibit-bibit teh dari pohon-pohon teh setinggi 7 meter ini dikembangkan di sejumlah lahan perbibitan di beberapa tempat.
Tamu khusus pabrik dapat menikmati pemandian air panas alami Tirta Camelia.
Air terjun Cilaki dan pembangkit listrik tenaga air yang didirikan atas perintah KAR Boscha dan sampai kini menjadi penyedia energi listrik bagi pabrik teh dan perumahan karyawan.
Sekolah pertama yang pada tahun 1913 dibangun berlokasi di kebun teh Ciemas menjadi sarana pendidikan bagi putra-putri karyawan perkebunan
KAR Boscha
Karel Albert Rudolf Boscha lahir di S'Gravenhage, Belanda. Ia tiba di Indonesia pada tahun 1887 dan mempelajari budidaya teh di Sinagar Sukabumi, Jawa Barat.
Tahun 1896, ia diangkat menjadi manajer perkebunan Teh Malabar sampai ia wafat pada tahun 1928.
Boscha tidak hanya dikenal di dunia budidaya teh. Ia banyak menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana bagi kepentingan-kepentingan sosial dan pembangunan kota Bandung, seperti Observatorium Bintang Boscha di Lembang, Bala Keselamatan di Jl. Jawa, sekolah bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara, Telefoon Maatschappij voor Bandung en Preanger di Jl Tegallega (kini PT INTI), serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs (Pekan Raya) yang kini menjadi kantor Kologdam.
Ia menjadi ketua Biro Spesialis Teh (tahun 1910) dan ketua Pertanian Percobaan (tahun 1917) dan anggota dewan penyantun untuk Tehnische Hogerschool (kini ITB) sampai tahun 1928. Ia pula yang mendirikan Institut Kanker dan yang pertama memperkenalkan satuan hektar dan kilometer untuk menggantikan satuan tradisional pal dan bahu. Atas jasa-jasanya, ia diangkat sebagai warga kehormatan kota Bandung dan kini namanya diabadikan pula sebagai nama sebuah jalan di utara Bandung.

Enter your email address:

dapatkan artikel terbaru dari kamiNews

0 komentar:

Posting Komentar